Marah Kasih Sayangku
Oleh: Lina Herliyanti
Udara dingin menusuk sampai
ke tulang, sisa-sisa hujan masih membekas terbawa angin. Dingin, sepi, menusuk
dan mengiris, seperti rasa yang saat ini Agung alami, kesal dan terasa sangat
sakit sekali di dada ketika Agung teringat janji yang masih belum juga ibu
tepati.
Agung hanya bisa
menghentakkan kakinya dan menghempaskan badan di kursi sopa berwarna coklat tua
di ruang tenagah rumahnya, hatinya sangat sedih dan kesal, sampai sampai air
matanya menetes, namun tak ada suara isakan yang keluar darimulutnya. Ia hanya
terdiam sambil memeluk lututnya. Wajahnya manyun dan asam, lebih asam lagi dari
buah asam kandis.
“Agung, sekarang pakai aja
dulu sepeda itu untuk pergi ke sekolah, nanti tunggu Agung sudah SMA baru ibu
belikan motor”. Rayu ibu Ratna pada anak bungsunya Agung. sambil duduk dan
membelai rambut anaknya Ibu Ratna terus merayu.”Gung, nanti ibu pasti belikan
ya, tapi nanti, belum sekarang. Ibu akan menabung buat beli motor mu ya nak?”
kebali ibu ratna merayu untuk meluluhkan hati Agung yang menahan tangisnya.
Kali ini ibu Ratna menang, karena akhirnya agung mengangguk walau dalam diam
saja. Agungpun pergi melangkah gontai masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian
putih birunya ke pakaian biasa untuk segera pergi ke kebun ladang sahang yang
tak jauh dari perumahan mereka.
***
Satu tahun telah tetrlewat,
namun janji yang pernah sang ibu ucapkan satu tahun yang lalu masih selalu
terdengar hangat di telinga dan pikiran Agung, dan saat inilah yang di
nanti-nantikan agung, 1 tahun bersabar bersama sang sepeda butut dan karat
hingga sering sekali sepeda tersebut jika kelamaan di naiki maka pantat Agung
akan terasa panas dan bahkan sering sekali lecet hingga mengelupas. Namun
keadaan itu tak membuat agung berkecil hati kala itu, apalagi jika ia teringat
dengan janji sang ibu yang akan membelikan motor baru padanya pada saat SMA,
dan kini saatnya janji-jani itu terwujud dalam nyata katrena agung telah
memasuki SMA.
Pada suatu malam, ketika
keluarga Agung sedang makan malam bersama, Agung ingin mengutarakan tagihan
janji pada sang ibu. Tapi Agung merasa ragu, dan takut dimarah karena berbicara
saat makan.
“Mak, Agungkan sudah SMA,
berati Agung sudah bolehlah memakai motor?” kata Agung mulai memberanikan diri
untuk mengingatkan janji pada sang ibu, siapa tahu dia lupa, karena sudah
hampir tiga bulan duduk di bangku SMA tidak ada tamda-tanda ibu akan membelikan
motor seperti yang telah di janjikanya dahulu.
“Makan dulu, tak baik kalau
makan sambil ngomong, nanti tak selesai-selesai makannya.” Jawab sang ibu,
Agung hanya bisa terdiam, karena semua mata kembali tertuju padanya, dari
ayahnya, kakaknya dan juga Abang iparnya. Benar apa yang Agung khawatirkan,
ternyata langsung di skak mat oleh ibunya.
Malam semakin larut, sunyi
dan sepi, tak ada aktivitas yang berarti yang tanpak di rumah Pak Usman
tersebut, yang tampak hanya lampu kamar Agung yang masih menyala dan suara
jangkrik yang berbunyi. Namun di satu kamar, ada otak yang terus bekerja dan
berpikir tentang nasibnya saat ini, 1 tahun bukan waktu yang sebentar untuk
kata menunggu dan bersabar, tapi kenapa kali ini sesuatu yang ditunggu itu tak
kunjung menghamnpiri, jangakan menghampiri nampak untuk mendekatipun sepertinya
tidak. Acchhhhhh……geram Agung yang duduk lemas di kursi belajarnya sambil
mengacak avak rambutnya yang ikal, “Janji-janji saja yang di obralkan. Toh
sekarang mana?” celoteh Agung yang hanya di tujukan pada sepinya malam.
Hari-hari di lalui dengan
rasa marah dan kesal, menunggu dan terus menunggu, harapan di bumbung tinggi
sampai memuncak, namun kini gunungan harapan itu mendidih dan lahar di dalamnya
siap meletus. Namun saat ini gunungan hanya bisa memberikan banjir lahar dingin
yang melanda rumah bu Sakinah dan debu-debu pulkanik dari gunung harapan
meracun ke adaan sekeliling.
“Sampai hati kau nak,
bertahun-tahun aku membesarkanmu, berharap kau menjadi anak yang benar-benar
baik, tak paham kah kau dengan keadaan ini?” keluh sang ibu. “Pontang-panting
Emak kau ne mencari duit, tapi kau cuma mau belagak jak, kite ne bukan orang
kaya, yang punya segalanya, hingga apa yang kau pintak lalu ada segera. Nak
jadi apa kau nantik?” keluh ibu panjang lebar pada Agung sedangkan Agung hanya terdiam dalam tahan isak
tangisnya. Agung pergi meninggalkan sang ibu, dan mengunci diri di dalam kamar.
Berhari-hari agung tak keluarkamar, bahkan ia melakukan mogok makan dan mogok
kerja tak mau lagi membantu ke kebun sahang.
Agung sangat kecewa dengan
keadaan sekarang, keadaannya semakin buruk karena sang kekasih hati Siska
tiba-tiba saja memutuskannya, karena Siska lebih memilih Andi yang ternyata
tetangga dekatnya yang baru beberapa hari lalu membeli motor belalang atau
Astrea, di bandingkan dengan Agung yang sering ngapel siska dengan motor butut
Legenda ayahnya yang saat di rem akan berderit menjerit, dan saat di rem juga
harus di bantu dengan gesekan sandal, mainan sok motor yang sudah tidak nyaman
lagi, pokoknya Agung tak ada kelanya di banding dengan Andi yang telah
menggunakan motor belalangnya untuk merebut hati Siaka.
Hari ini benar-benar gunung
merapi harapan itu akan meletus dengan dahsyat, siap memuntahkan lahar apinya,
namun hati ibu masih belum melaksanakan janjinya satu tahun silam. Laksana mbah
Majiran yang masih tetap bertahan di rumahnya kendati lahar merah telah turun
siap melahap apapun yang menghalanginya.
“Dasar pembohong!, kalau tak
mau bilang tak mau! Jangan obral janji! Satu tahun ibu,,satu tahun aku bersabar
dan menanti kata-kata yang waktu itu ibu janjikan kepadaku. Salahkah aku yang
sekarang menbuntut janji itu?” di sertai dengan deraoian air mata kekesalan
yang telah tertahan lama ini, Agung akhirnya meninggikan suaranya. Semua hening
tanpa ada yang bicara, ayah dan yang lainnya hanya terdiam saja. Mereka
sebenarnya tahu tentang hal itu, jani yang telah ibu ucapkan pada Agung satu
tahun yang lalu, namun entah mengapa sang ibu belum juga memenuhi janjinya
tersebut, malahan dia membelikan motor untuk menantunya suami dari kakaknya
Anis walau hanya dengan kredit, alasannya untuk pergi ke ladang sahang. Dan
keadaan ini jugalah yang membuat Agung semakin memuncak kemarahanya dan
kekesalannya pada sang ibu. Ayah pernah menasihati ibu agar segera
melaksanankan jajinya tersebut, tapi ibu hanya diam saja, dan kini yang ayah
khawatirkan menjadi nyata, putra bungsunya marah yang tak dapat di hentikan
lagi.
“Sekarang apa? Ibu malah
membelikan motor untuk abang, padahal Agung yang ibu janjikan untuk mendapatkan
motor kalau sudah SMA, tapi sampai sekarang pun ibu tidak mewujudkannya?” Agung
marah sambil menangis, di usapnya air matanya dengan tangan, nafasnya yang tak
teratur naik turun, matanya merah, wajah yang sangar keluar bak kesetanan
sudah. “Baiklah, kalau begini agung akan pergi dari rumah, terserah ibu mau
apa, Agung sudah tak betah, agung lelah dengan keadaan ini”. Mengakhiri
kalimatnya, Angungpun masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas ransel yang
sepertinya sudah ia siapkan sebelumnya, lalu ia keluar dan meninggalkan
rumahnya. Tak ada yang dapat menghentikan langkahnya, termasuk Ayah, kakak dan
Abang iparnya hanya terduduk diam. Sedangkan sang ibu, terlihat tenang-tenag
saja. Ach..ibu yang aneh, entah apa yang dipikirkannya.
***
Tiga bulan terlewat,
ternyata Agung tak jua pulang kerumah, jangankan pulang kabarnyapun tak
terdengar. Entah di mana rimbanya Agung kini tak ada yang tahu, Ayah dan Anis
sudah mencari kemana-mana namu tak juga ketemu. Sang Ibu kini hanya bisa
meratapi, namun apa yang hendak di sesalkan, kekerasannya kini sudah
menunjukkan hasilnya, ternyata kerasnya juga tertular pada anaknya.
Setiap kali ibu memandang
sepeda yang karatan itu, setiap kali juga ada desiran aneh yang menyayat perih,
terasa sesak di dada. Di pandangnya lekat-lekat sepeda tua yang reot itu,
sepeda yang tidak lagi berbentuk sepeda, stangnya yang sudah tidak ada tali
rem, di ban depan terselit sandal jepit sebagai ganti rem. Rantai yang sudah
berkarat dan mongering karena tak pernah disiram oli bekas lagi. Tiba-tiba saja
ia melihat Agung tersenyum di atas sepeda, “Agung,,,Anakku”. Ibu mengejar Agung
dan ternyata hanya baying saja. Tak nyata. Hampir saban hari ibunya seperti
itu, melamun dan terus berbicara sendiri pada sepeda, seperti berbicara pada
Agung, padahal hanya seonggok sepeda tua yang karat bersamanya. Melihat keadaan
Istrinya seperti itu,Pak Usman memutuskan untuk mencari Agung dan mengajaknya
pulang, tapi kemana mencarinya? Semua teman Agung sudah di hubungi, tapi tak
satupun yang tahu di mana Agung berada.
Semakin hari keadaan ibu
semakin parah, kerjanya hanya melamun saja dan menangis, tak mau makan dan
kalau tidur selalu mengigau. Dan akhirnya Ibu Ratna di Rawat di rumah sakit.
Namun untuk waktu yang sebentar saja, karena menuut dokter ibu mengalami teanan
batin yang kuat, penyakit sperti ini tidak dapat diobati dengan cara dokter,
satu-satunya cara temukan sumber dari sakitnya yaitu Agung, anak bungsu yang ia
rindui.
***
Udara panas kembali menjadi
saksi, suara isak menyertai, umur, jodoh dan rizqi siapa yang mengetahui, dan
kini jasad berpulang ke bumi, ruh terpanggil untuk menghadap Illahi Rabbi. Ibu
Ratna akhirnya berpulang pada yang kuasa, teryata sakit rindunya lebih besar
dari pertahanannya, hingga akhirnya dia pergi menutup mata nya.
Namun sebelum ia pergi, ia
menitipkan surat buat Agung sang putra bungsu jiak kelak ia pulang kerumah, dan
yang menulis adalah sang Ayah.
Untuk putra bungsuku tersayang
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…
Nak, ibu minta maaf, karena ibu tidak dapat memberikan
langsung janji ibu ini kepadamu, benar, satu tahun telewat sudah dari janji ibu yang
ibu ucapkan padamu dahulu, ibu tidak lupa, bahkan terus mengingat janji-janji
itu. janji-jani itu selalu menghias hari-hari ibu selama satu tahun ini.
Janji-janji itu juga yang selalu membuat ibu bersemangat dan tersenyum di kala
letihnya ibu. Ibu mau untuk putra bungsu ibu yang terbaik, bukan hanya baik
dalam materi tetapi juga baik dalam budi.
Nak, ibu sangat sayang padamu, belum terwujudnya janji
ibu bukan karena ibu lupa dan mengabaikan janji ibu, akan tetapi lebih kepada kesiapan
mentalmu untuk menerima semua itu. ada
setitik kekwatiran yang membuat ibu ragu dengan itu, ibu takut sekolahmu bukan
yang nomor 1 lagi setelah janji itu ibu wujudkan, bukan sekolah yang akan
engkau jalankan tapi lebih kepada hura-hura, kebut sana, kebut sini, dan yang
terjadi entah apalagi.maafkan atas kelebihan kekwatiran hati ibumu ini.
Maafkan ibu anakku, benar keadaan kita memang
Alhamdulillah diberinya lebih dari yang lain, namun itu hanya titipan darinya, karena
roda hidup terus berputar, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah. Ibu mau
kelak engkau tidak terkejut dengan keadaan yang tiba-tiba berubah, ibu mau
engkau memulai hidup dengan kesederhanaan sekalipun hidupmu lebih.
Anakku tersayang, mungkin saat engkau membaca surat
ini ibu telah tiada, ibu hanya berharap engkau menjadi insan yang berguna bagi
siapa saja, karena insan yang baik adalah insan yang bermanfaat (banyak
menebarkan kebaikan) bagi orang lain. marahnya ibu selama ini, adalah karena
kasih bukan benci. Ibu berharap engkau memaafkan ibu anakku.
Anakku, maafkan ibu, ibu sangat menyayangimu, ibu
hanya bisa berdoa semoga engkau selalu dalam lindungannya dan hidup bahagia.Amin….
Peluk cintakasih dari ibu untukmu anak bungsuku…..
Tertanda Ibu yang menyangimu…
Ratna
Setelah surat selesai, tak beberapa lama
ibu akhirnya menutup mata dan tak akan terbuka lagi untuk selama-lamanya.
Hening mengiring, tak ada kegaduhan dalam dinding sepi, tak ada kalut yang
menyeruak, hanya otak yang terus bekerja.
Hutang emas dapat dibayar, hutang janji terselit di hati, begitulah
kita. Sampai kepergian ibunya Agung tak kunjung hadir juga, karena Agung kini
tak tahu rimbanya.
Slamat Hari Ibu every body
Tidak ada komentar:
Posting Komentar