Total Tayangan Halaman

Senin, 19 Desember 2011

Cerpen Ibu


Marah Kasih Sayangku
Oleh: Lina Herliyanti
Udara dingin menusuk sampai ke tulang, sisa-sisa hujan masih membekas terbawa angin. Dingin, sepi, menusuk dan mengiris, seperti rasa yang saat ini Agung alami, kesal dan terasa sangat sakit sekali di dada ketika Agung teringat janji yang masih belum juga ibu tepati.
Agung hanya bisa menghentakkan kakinya dan menghempaskan badan di kursi sopa berwarna coklat tua di ruang tenagah rumahnya, hatinya sangat sedih dan kesal, sampai sampai air matanya menetes, namun tak ada suara isakan yang keluar darimulutnya. Ia hanya terdiam sambil memeluk lututnya. Wajahnya manyun dan asam, lebih asam lagi dari buah asam kandis.
“Agung, sekarang pakai aja dulu sepeda itu untuk pergi ke sekolah, nanti tunggu Agung sudah SMA baru ibu belikan motor”. Rayu ibu Ratna pada anak bungsunya Agung. sambil duduk dan membelai rambut anaknya Ibu Ratna terus merayu.”Gung, nanti ibu pasti belikan ya, tapi nanti, belum sekarang. Ibu akan menabung buat beli motor mu ya nak?” kebali ibu ratna merayu untuk meluluhkan hati Agung yang menahan tangisnya. Kali ini ibu Ratna menang, karena akhirnya agung mengangguk walau dalam diam saja. Agungpun pergi melangkah gontai masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian putih birunya ke pakaian biasa untuk segera pergi ke kebun ladang sahang yang tak jauh dari perumahan mereka.
***
Satu tahun telah tetrlewat, namun janji yang pernah sang ibu ucapkan satu tahun yang lalu masih selalu terdengar hangat di telinga dan pikiran Agung, dan saat inilah yang di nanti-nantikan agung, 1 tahun bersabar bersama sang sepeda butut dan karat hingga sering sekali sepeda tersebut jika kelamaan di naiki maka pantat Agung akan terasa panas dan bahkan sering sekali lecet hingga mengelupas. Namun keadaan itu tak membuat agung berkecil hati kala itu, apalagi jika ia teringat dengan janji sang ibu yang akan membelikan motor baru padanya pada saat SMA, dan kini saatnya janji-jani itu terwujud dalam nyata katrena agung telah memasuki SMA.
Pada suatu malam, ketika keluarga Agung sedang makan malam bersama, Agung ingin mengutarakan tagihan janji pada sang ibu. Tapi Agung merasa ragu, dan takut dimarah karena berbicara saat makan.
“Mak, Agungkan sudah SMA, berati Agung sudah bolehlah memakai motor?” kata Agung mulai memberanikan diri untuk mengingatkan janji pada sang ibu, siapa tahu dia lupa, karena sudah hampir tiga bulan duduk di bangku SMA tidak ada tamda-tanda ibu akan membelikan motor seperti yang telah di janjikanya dahulu.
“Makan dulu, tak baik kalau makan sambil ngomong, nanti tak selesai-selesai makannya.” Jawab sang ibu, Agung hanya bisa terdiam, karena semua mata kembali tertuju padanya, dari ayahnya, kakaknya dan juga Abang iparnya. Benar apa yang Agung khawatirkan, ternyata langsung di skak mat oleh ibunya.
Malam semakin larut, sunyi dan sepi, tak ada aktivitas yang berarti yang tanpak di rumah Pak Usman tersebut, yang tampak hanya lampu kamar Agung yang masih menyala dan suara jangkrik yang berbunyi. Namun di satu kamar, ada otak yang terus bekerja dan berpikir tentang nasibnya saat ini, 1 tahun bukan waktu yang sebentar untuk kata menunggu dan bersabar, tapi kenapa kali ini sesuatu yang ditunggu itu tak kunjung menghamnpiri, jangakan menghampiri nampak untuk mendekatipun sepertinya tidak. Acchhhhhh……geram Agung yang duduk lemas di kursi belajarnya sambil mengacak avak rambutnya yang ikal, “Janji-janji saja yang di obralkan. Toh sekarang mana?” celoteh Agung yang hanya di tujukan pada sepinya malam.
Hari-hari di lalui dengan rasa marah dan kesal, menunggu dan terus menunggu, harapan di bumbung tinggi sampai memuncak, namun kini gunungan harapan itu mendidih dan lahar di dalamnya siap meletus. Namun saat ini gunungan hanya bisa memberikan banjir lahar dingin yang melanda rumah bu Sakinah dan debu-debu pulkanik dari gunung harapan meracun ke adaan sekeliling.
“Sampai hati kau nak, bertahun-tahun aku membesarkanmu, berharap kau menjadi anak yang benar-benar baik, tak paham kah kau dengan keadaan ini?” keluh sang ibu. “Pontang-panting Emak kau ne mencari duit, tapi kau cuma mau belagak jak, kite ne bukan orang kaya, yang punya segalanya, hingga apa yang kau pintak lalu ada segera. Nak jadi apa kau nantik?” keluh ibu panjang lebar pada Agung sedangkan  Agung hanya terdiam dalam tahan isak tangisnya. Agung pergi meninggalkan sang ibu, dan mengunci diri di dalam kamar. Berhari-hari agung tak keluarkamar, bahkan ia melakukan mogok makan dan mogok kerja tak mau lagi membantu ke kebun sahang.
Agung sangat kecewa dengan keadaan sekarang, keadaannya semakin buruk karena sang kekasih hati Siska tiba-tiba saja memutuskannya, karena Siska lebih memilih Andi yang ternyata tetangga dekatnya yang baru beberapa hari lalu membeli motor belalang atau Astrea, di bandingkan dengan Agung yang sering ngapel siska dengan motor butut Legenda ayahnya yang saat di rem akan berderit menjerit, dan saat di rem juga harus di bantu dengan gesekan sandal, mainan sok motor yang sudah tidak nyaman lagi, pokoknya Agung tak ada kelanya di banding dengan Andi yang telah menggunakan motor belalangnya untuk merebut hati Siaka.
Hari ini benar-benar gunung merapi harapan itu akan meletus dengan dahsyat, siap memuntahkan lahar apinya, namun hati ibu masih belum melaksanakan janjinya satu tahun silam. Laksana mbah Majiran yang masih tetap bertahan di rumahnya kendati lahar merah telah turun siap melahap apapun yang menghalanginya.
“Dasar pembohong!, kalau tak mau bilang tak mau! Jangan obral janji! Satu tahun ibu,,satu tahun aku bersabar dan menanti kata-kata yang waktu itu ibu janjikan kepadaku. Salahkah aku yang sekarang menbuntut janji itu?” di sertai dengan deraoian air mata kekesalan yang telah tertahan lama ini, Agung akhirnya meninggikan suaranya. Semua hening tanpa ada yang bicara, ayah dan yang lainnya hanya terdiam saja. Mereka sebenarnya tahu tentang hal itu, jani yang telah ibu ucapkan pada Agung satu tahun yang lalu, namun entah mengapa sang ibu belum juga memenuhi janjinya tersebut, malahan dia membelikan motor untuk menantunya suami dari kakaknya Anis walau hanya dengan kredit, alasannya untuk pergi ke ladang sahang. Dan keadaan ini jugalah yang membuat Agung semakin memuncak kemarahanya dan kekesalannya pada sang ibu. Ayah pernah menasihati ibu agar segera melaksanankan jajinya tersebut, tapi ibu hanya diam saja, dan kini yang ayah khawatirkan menjadi nyata, putra bungsunya marah yang tak dapat di hentikan lagi.
“Sekarang apa? Ibu malah membelikan motor untuk abang, padahal Agung yang ibu janjikan untuk mendapatkan motor kalau sudah SMA, tapi sampai sekarang pun ibu tidak mewujudkannya?” Agung marah sambil menangis, di usapnya air matanya dengan tangan, nafasnya yang tak teratur naik turun, matanya merah, wajah yang sangar keluar bak kesetanan sudah. “Baiklah, kalau begini agung akan pergi dari rumah, terserah ibu mau apa, Agung sudah tak betah, agung lelah dengan keadaan ini”. Mengakhiri kalimatnya, Angungpun masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas ransel yang sepertinya sudah ia siapkan sebelumnya, lalu ia keluar dan meninggalkan rumahnya. Tak ada yang dapat menghentikan langkahnya, termasuk Ayah, kakak dan Abang iparnya hanya terduduk diam. Sedangkan sang ibu, terlihat tenang-tenag saja. Ach..ibu yang aneh, entah apa yang dipikirkannya.
***
Tiga bulan terlewat, ternyata Agung tak jua pulang kerumah, jangankan pulang kabarnyapun tak terdengar. Entah di mana rimbanya Agung kini tak ada yang tahu, Ayah dan Anis sudah mencari kemana-mana namu tak juga ketemu. Sang Ibu kini hanya bisa meratapi, namun apa yang hendak di sesalkan, kekerasannya kini sudah menunjukkan hasilnya, ternyata kerasnya juga tertular pada anaknya.
Setiap kali ibu memandang sepeda yang karatan itu, setiap kali juga ada desiran aneh yang menyayat perih, terasa sesak di dada. Di pandangnya lekat-lekat sepeda tua yang reot itu, sepeda yang tidak lagi berbentuk sepeda, stangnya yang sudah tidak ada tali rem, di ban depan terselit sandal jepit sebagai ganti rem. Rantai yang sudah berkarat dan mongering karena tak pernah disiram oli bekas lagi. Tiba-tiba saja ia melihat Agung tersenyum di atas sepeda, “Agung,,,Anakku”. Ibu mengejar Agung dan ternyata hanya baying saja. Tak nyata. Hampir saban hari ibunya seperti itu, melamun dan terus berbicara sendiri pada sepeda, seperti berbicara pada Agung, padahal hanya seonggok sepeda tua yang karat bersamanya. Melihat keadaan Istrinya seperti itu,Pak Usman memutuskan untuk mencari Agung dan mengajaknya pulang, tapi kemana mencarinya? Semua teman Agung sudah di hubungi, tapi tak satupun yang tahu di mana Agung berada.
Semakin hari keadaan ibu semakin parah, kerjanya hanya melamun saja dan menangis, tak mau makan dan kalau tidur selalu mengigau. Dan akhirnya Ibu Ratna di Rawat di rumah sakit. Namun untuk waktu yang sebentar saja, karena menuut dokter ibu mengalami teanan batin yang kuat, penyakit sperti ini tidak dapat diobati dengan cara dokter, satu-satunya cara temukan sumber dari sakitnya yaitu Agung, anak bungsu yang ia rindui.
***
Udara panas kembali menjadi saksi, suara isak menyertai, umur, jodoh dan rizqi siapa yang mengetahui, dan kini jasad berpulang ke bumi, ruh terpanggil untuk menghadap Illahi Rabbi. Ibu Ratna akhirnya berpulang pada yang kuasa, teryata sakit rindunya lebih besar dari pertahanannya, hingga akhirnya dia pergi menutup mata nya.
Namun sebelum ia pergi, ia menitipkan surat buat Agung sang putra bungsu jiak kelak ia pulang kerumah, dan yang menulis adalah sang Ayah.
Untuk putra bungsuku tersayang
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh…
Nak, ibu minta maaf, karena ibu tidak dapat memberikan langsung janji ibu ini kepadamu, benar,  satu tahun telewat sudah dari janji ibu yang ibu ucapkan padamu dahulu, ibu tidak lupa, bahkan terus mengingat janji-janji itu. janji-jani itu selalu menghias hari-hari ibu selama satu tahun ini. Janji-janji itu juga yang selalu membuat ibu bersemangat dan tersenyum di kala letihnya ibu. Ibu mau untuk putra bungsu ibu yang terbaik, bukan hanya baik dalam materi tetapi juga baik dalam budi.
Nak, ibu sangat sayang padamu, belum terwujudnya janji ibu bukan karena ibu lupa dan mengabaikan janji ibu, akan tetapi lebih kepada kesiapan mentalmu untuk menerima  semua itu. ada setitik kekwatiran yang membuat ibu ragu dengan itu, ibu takut sekolahmu bukan yang nomor 1 lagi setelah janji itu ibu wujudkan, bukan sekolah yang akan engkau jalankan tapi lebih kepada hura-hura, kebut sana, kebut sini, dan yang terjadi entah apalagi.maafkan atas kelebihan kekwatiran hati ibumu ini.
Maafkan ibu anakku, benar keadaan kita memang Alhamdulillah diberinya lebih dari yang lain, namun itu hanya titipan darinya, karena roda hidup terus berputar, kadang kita di atas dan kadang kita di bawah. Ibu mau kelak engkau tidak terkejut dengan keadaan yang tiba-tiba berubah, ibu mau engkau memulai hidup dengan kesederhanaan sekalipun hidupmu lebih.
Anakku tersayang, mungkin saat engkau membaca surat ini ibu telah tiada, ibu hanya berharap engkau menjadi insan yang berguna bagi siapa saja, karena insan yang baik adalah insan yang bermanfaat (banyak menebarkan kebaikan) bagi orang lain. marahnya ibu selama ini, adalah karena kasih bukan benci. Ibu berharap engkau memaafkan ibu anakku.  
Anakku, maafkan ibu, ibu sangat menyayangimu, ibu hanya bisa berdoa semoga engkau selalu dalam lindungannya dan hidup bahagia.Amin….
Peluk cintakasih dari ibu untukmu anak bungsuku…..
Tertanda Ibu yang menyangimu…
Ratna
Setelah surat selesai, tak beberapa lama ibu akhirnya menutup mata dan tak akan terbuka lagi untuk selama-lamanya. Hening mengiring, tak ada kegaduhan dalam dinding sepi, tak ada kalut yang menyeruak, hanya otak yang terus bekerja.  Hutang emas dapat dibayar, hutang janji terselit di hati, begitulah kita. Sampai kepergian ibunya Agung tak kunjung hadir juga, karena Agung kini tak tahu rimbanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar